Eliza Kewang Haruku
www.kewang-haruku.org
kalpataru
HOME SASI HARUKU PERATURAN SASI SASI IKAN LOMPA STRUKTUR ADAT
Related Link

Kewang Haruku

Create Your Badge
 
Web Counter
Free Counter
 
free counters
 

 

ELIZZA KISSYA

eliza

ELIZA KISSYA. Lahir di Haruku, tanggal 12 Maret 1949. Sehari-hari bekerja sebagai tani nelayan dan secara formal hanya mengecap pendidikan sampai tingkat Sekolah Rakyat (SR), tetapi sempat mengikuti banyak pendidikan non-formal, antara lain Pendidikan Konservasi Alam oleh Kantor Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1987), Latihan Budidaya Perikanan di Politeknik Universitas Pattimura (1989), Latihan Analisa Dampak Lingkungan oleh WALHI & Yayasan Hualopu (1991), Studi Banding Pertanian Lahan Kering di Flores (1992) dan Latihan Media Komunikasi Rakyat oleh SEARICE (1993). Dalam kedudukannya sebagai Pemangku atau Kepala Pelaksana Adat (Kewang) Desa negeri Haruku, terlibat aktif dalam pertemuan-pertemuan regional, antara lain pada Pertemuan Nelayan se-Indonesia Timur di Lombok (1989) serta Simposium Sumberdaya Hukum Lingkungan & Seminar Hukum Adat Kelautan di Universitas Pattimura, Ambon (1991). Sehari-hari dipanggil dengan nama akrab "Oom Elli', sejak tahun 1979, bersama masyarakat dan Raja (Kepala Desa) Haruku saat itu, Berthy Ririmase, menghidupkan kembali lembaga dan hukum adat daerahnya untuk mengelola lingkungan hidup secara lestari, terutama penyempurnaan hukum sasi (larangan adat) untuk melindungi populasi dan habitat ikan lompa (Trisina baelama) di perairan Haruku. Untuk kepeloporannya ini, Kantor Menteri Negara Kependudukan & Lingkungan Hidup menganugerahkan penghargaan tertinggi nasional di bidang lingkungan hidup, Hadiah Kalpataru, pada tahun 1985. Sampai kini, Oom Elli masih tetap gigih melakukan penghijauan di pesisir pantai Haruku untuk mengembangkan kawasan habitat burung maleo. Juga aktif menentang pemboman ikan dan terumbu karang serta pengerukan kerikil pantai di Haruku yang bahkan sampai ke tingkat pengadilan.

 

Eliza Kissya, Penjaga Adat dan Hutan Haruku

Oleh : M Zaid Wahyudi (KOMPAS, Kamis 23 Maret 2006)

Tatapannya tajam. Nada bicaranya tegas. Apalagi menyangkut pelestarian lingkungan dan perjuangan masyarakat adat. Dia tak peduli walau pekerjaannya penuh tekanan, berisiko tinggi, dan tak menghasilkan gaji. Kecintaan Eliza Kissya untuk melestarikan lingkungan dan adat di Pulau Haruku justru mengalahkan ketakutan dan stres yang dialaminya selama ini. Pria yang disapa Om Ely itu adalah kepala kewang (polisi hutan) di Negeri Haruku, Pulau Haruku, Maluku. Negeri adalah sebutan lain dari ”desa” di Maluku bagian tengah yang meliputi Pulau Ambon, Pulau Seram, dan Pulau-pulau Lease. Ely adalah generasi keenam dari keluarga kewang di Haruku. Tekanan berat yang dihadapi Ely sering kali membuatnya stres. Bahkan, Elizabeth, sang istri, dan anak-anaknya pernah memintanya untuk mengundurkan diri dari profesi itu. Terlebih lagi, banyak waktu keluarga terbuang oleh kesibukan Ely yang justru menimbulkan tekanan bagi dirinya. Namun, beban moral untuk terus melestarikan adat tradisi dan kelestarian lingkungan membuatnya terus bertahan. Keluarga akhirnya pasrah dan mendukung keteguhan hatinya.

eliza's family


Ely yang lahir pada 12 Maret 1949 itu sudah 26 tahun menjadi kepala kewang, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Profesi itu seharusnya jatuh ke tangan kakaknya. Namun, karena kakaknya telah menjadi sekretaris desa, maka ia yang ditunjuk mewakili marganya untuk menjadi kewang. Tanggung jawab untuk melestarikan adat leluhur menjadi dorongan kuat bagi Ely untuk mau menjadi kewang. Tugas sebagai kepala kewang bukanlah hal yang mudah. Meskipun namanya polisi hutan, kewang di Negeri Haruku bukan hanya bertanggung jawab menjaga kelestarian hutan, melainkan juga menjaga kelestarian sumber daya laut. Kewang juga berkewajiban menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, memelihara norma susila, serta menegakkan hukum adat atas setiap pelanggaran aturan yang ada sejak zaman nenek moyang mereka. Tantangan terberatnya sebagai seorang pemangku adat adalah tidak adanya pengakuan legal pemerintah atas sistem adat yang berlaku di negerinya. Pemberlakuan sistem desa di masa Orde Baru telah mengikis sebagian norma adat di sejumlah daerah, termasuk di Haruku. Runyamnya penghargaan dan pemahaman anak muda terhadap sistem adat yang berlaku di daerah sangatlah kurang. Demikian pula penghargaan mereka atas profesi para pemangku adat. Tidak berlebihan bila Ely cemas, siapa yang akan meneruskan tugas mulia yang kini diembannya. Tugas seorang kewang memang berat. Untuk menjaga kelestarian sumber daya hayati di wilayah perairan di zaman modern ini, para kewang harus berhadapan dengan para nelayan yang menggunakan bom ikan dan pemakaian mata jaring yang dapat menangkap benih-benih ikan. Padahal, peralatan kewang sangatlah minim. Apalagi kewenangannya yang sangat terbatas membuat para kewang Haruku tidak dapat memberi sanksi kepada nelayan dari desa lain. Untuk menjaga ketertiban masyarakat, para kewang tidak hanya berpatroli keliling desa, tetapi juga harus menyelenggarakan peradilan adat untuk menghukum mereka yang melanggar ketentuan adat. Masa-masa sulit yang dihadapi Ely adalah saat ia harus menjadi saksi dalam persidangan di pengadilan negeri atas kasus penangkapan ikan dengan bom. Selain menghadapi tekanan, Ely harus dikecewakan dengan vonis ringan yang dijatuhkan pengadilan terhadap perusak lingkungan tersebut. Upaya yang ia lakukan bersama para kewang lainnya terasa sia-sia.
Bercermin dari kasus itu, Ely mengubah langkahnya. Seiring usia yang semakin matang, Ely memilih menggunakan cara-cara yang lebih lembut dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menanamkan pentingnya arti lingkungan kepada masyarakat, terutama kaum muda, menjadi pilihan perjuangan Ely saat ini. ”Saya hanya berharap anak-anak muda untuk mencintai lingkungannya,” kata Ely. Upaya para kewang menjaga kelestarian sumber daya hayati Haruku diakui pemerintah berupa penghargaan Kalpataru untuk kategori penyelamat lingkungan pada tahun 1985 dan Satya Lencana Pembangunan tahun 1999. Pengakuan pemerintah atas sistem pemerintahan adat dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diperbarui dengan UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan kebahagiaan terbesar yang dirasakan Ely. Pengakuan sistem pemerintahan adat memacu sejumlah desa di Maluku untuk kembali pada sistem pemerintahan adat setingkat desa, seperti ”negeri” untuk desa-desa di Maluku bagian tengah atau ”ohoy” di Maluku Tenggara. ”Saya lega bila apa yang saya perjuangkan berhasil tercapai,” ujar Ely. Meskipun hanya tamatan sekolah dasar, Ely mempunyai cita-cita dan pemikiran yang maju. Kelestarian lingkungan harus tetap dipertahankan karena mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat secara berkelanjutan. Menyadari pekerjaannya tak bergaji, dia pun menanam cengkeh, singkong, dan aneka sayur-mayur. Memang, hasil kebun terkadang tidak cukup. Namun, dengan kegigihannya, Ely mampu membesarkan enam anaknya yang beberapa di antaranya berhasil mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan, kini dibantu anak dan beberapa tenaga kerja, Ely menekuni pengembangan budidaya sayuran organik dan mengembangkan wisata budaya di desanya. ”Saya bahagia bisa menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain,” kata Ely.

 

 






 

video
 

 

Artikel Terkait :

 

 


Conservation is the management, protection, and wise use of natural resources. Natural resources include all the things that help support life, such as sunlight, water, soil, and minerals. Plants and animals are also natural resources. The earth has limited supplies of many natural resources. Our use of these resources keeps increasing as the population grows and our standard of living rises. Conservationists work to ensure that the environment can continue to provide for human needs. Without conservation, most of the earth's resources would be wasted, degraded, or destroyed. Conservation includes a wide variety of activities. Conservationists work to keep farmlands productive. conservation They manage forests to supply timber, to shelter wildlife, and to provide people with recreational opportunities. They work to save wilderness areas and wildlife from human destruction. They try to find ways to develop and use mineral resources without damaging the environment. Conservationists also seek safe, dependable ways to help meet the world's energy needs. In addition, they work to improve city life by seeking solutions to air pollution, waste disposal, and urban decay. Conservationists sometimes divide natural resources into four groups: (1) inexhaustible resources, (2) renewable resources, (3) nonrenewable resources, and (4) recyclable resources. Inexhaustible resources, such as sunlight, cannot be used up. Conservation experts consider water an inexhaustible resource because the earth will always have the same amount of water. But water supplies vary from one area to another, and some areas have shortages of clean, fresh water. The supplies of salt and some other minerals are so abundant that they are not likely to be used up. Renewable resources can be used and replaced. They include plants and animals, which reproduce and so replace themselves. Most renewable resources cannot be stored for future use. For example, old trees rot and become useless for timber if they are not cut down, though rotting trees can serve such important purposes as providing habitat for wildlife. In addition, because most renewable resources are living things, they interact with one another. Thus, the use of one such resource affects others. For example, cutting down trees affects many plants and animals, as well as soil and water resources. Soil may be considered a renewable resource because crops can be grown on the same land for years if the soil is cared for properly. But if the soil is allowed to wash or blow away, it can only be replaced over hundreds of years. Nonrenewable resources, such as coal, iron, and petroleum, cannot be replaced. They take thousands or millions of years to form. People deplete supplies of these resources faster than new supplies can form. We can store most nonrenewable resources for future use. Mining companies sometimes leave minerals in the ground to save them for the future. Little interaction occurs among most nonrenewable resources, so using one nonrenewable resource has little effect on another. Recyclable resources, such as aluminum and copper, can be used more than once. For example, aluminum can be used to make containers and then be reprocessed and reused. People have practiced some kinds of conservation for hundreds of years. As a popular movement, however, conservation began in the United States during the early 1900's. The word conservation was probably first used by Gifford Pinchot, head of the U.S. Forest Service during President Theodore Roosevelt's administration. The term comes from two Latin words-servare, which means to keep or to guard, and con, which means together. During the early 1900's, American conservationists worked chiefly to preserve the nation's forests and wildlife. Today, conservationists work in many fields, including forestry, geology, range ecology, soil science, wildlife biology, and urban planning. Conservationists are also called environmentalists. One of the most difficult challenges of conservation is to reconcile two, sometimes conflicting, goals-(1) to protect the environment and (2) to maintain or increase agricultural and industrial production. For example, the agricultural use of some chemical fertilizers and pesticides pollutes the environment but also greatly increases crop yields. Thus, most farmers do not want to stop using these chemicals, even though it would be best for the environment. Only the combined efforts of many people can solve such problems. Business leaders, government officials, scientists, and individuals must all work together to conserve natural resources.

KEWANG HARUKU - DESA HARUKU
KABUPATEN MALUKU TENGAH - PROVINSI MALUKU - INDONESIA
WEBSITE : www.kewang-haruku.org EMAIL : kewangharuku@gmail.com
TELP. +6285243460984 (Eliza Kissya)
designed by irwantoshut.net