Eliza Kewang Haruku
www.kewang-haruku.org
kalpataru
HOME SASI HARUKU PERATURAN SASI SASI IKAN LOMPA STRUKTUR ADAT
Related Link

Kewang Haruku

Create Your Badge
 
Web Counter
Free Counter
 
free counters
 

 

RINCIAN PERATURAN SASI NEGERI HARUKU

Oleh : Eliza Kissya

Berikut ini adalah rincian peraturan pelaksanaan dari keempat jenis sasi yang berlaku di Haruku yang diputuskan dalam kerapatan Dewan Adat Lengkap Negeri Haruku (Saniri'a Lo'osi Aman Haru-ukui) pada tanggal 10 Juni 1985, yang ditandatangani oleh Raja Haruku (Berthy Ririmasse), Kepala Kewang Darat (Eliza Kissya) dan Kepala Kewang Laut (Eli Ririmasse).
Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa ketentuan ketentuan peraturan sasi ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu, sehingga ketentuan-ketentuan yang dibuat tertulis saat ini, pada hakekatnya, hanyalah menegaskan kembali peraturan-peraturan adat yang telah diwariskan oleh para leluhur desa ini. Namun demikian, seperti yang terlihat jelas pada peraturan Sasi Kali, ada beberapa tambahan ketentuan baru (misalnya larangan berperahu motor dengan menghidupkan mesin dalam kali) yang diputuskan dalam rangka mengantisipasi perkembangan keadaan di zaman modern saat ini. Demikian juga halnya dengan ketentuan besarnya jumlah denda pelanggaran dalam bentuk uang tunai, juga disesuaikan dengan perkembangan ekonomi saat ini. Contoh tambahan peraturan Karoro Sasi Laut lainnya adalah larangan menggunakan jenis jaring-halus buatan pabrik ( karoro) yang dulunya belum dikenal dan baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan pengalaman, jenis alat-tangkap ini ternyata sangat merusak karena mampu menangkap semua jenis ikan dalam berbagai ukuran tanpa pandang-bulu (mirip jaring "pukat harimau" atau trawl). Demikian pula halnya dengan larangan memanjat pohon bagi kaum perempuan, dalam peraturan Sasi Negeri yang diperbaharui, larangan ini dirubah dengan memperbolehkan perempuan memanjat pohon asal menggunakan pakaian yang pantas, antara lain, karena pertimbangan bahwa kini tersedia bahan sandang (misalnya, celana panjang) yang juga dapat dikenakan oleh perempuan.
Semua itu menandakan bahwa sasi bukanlah suatu kumpulan peraturan adat yang kaku, tetapi tetap dinamis mengikuti perkembangan zaman, sepanjang inti semangat, roh atau jiwanya (yakni asas kelestarian dan keseimbangan kehidupan manusia dengan sesama manusia dan alam sekitarnya) tetap tidak berubah dan terpelihara.

HARUKU


SASI LAUT

1. Batas-batas sasi laut adalah mulai dari sudut Balai Desa bagian utara, 200 meter ke laut arah barat dan ke selatan sampai ke Tanjung Wairusi.
2. Batas sasi untuk ikan lompal di laut: mulai dari labuhan Vetor, 200 meter ke laut arah barat dan ke selatan sampai ke Tanjung Hi-i.
3. Terlarang menangkap ikan yang berada dalam daerah sasidengan menggunakan jenis alat tangkap apapun, terkecuali dengan jala, tetapi harus dengan cara berjalan kaki dan tidak boleh berperahu. Persyaratan bagi orang yang mempergunakan jala adalah hanya pada batas kedalaman air setinggi pinggang orang dewasa.
4. Daerah labuhan bebas adalah mulai dari sudut Balai Desa bagian utara sampai ke Tanjung Waimaru. Pada daerah labuhan bebas ini, orang boleh menangkap ikan dengan jaring, tetapi tidak boleh bersengketa. Jika ternyata ada yang bersengketa, maka labuhan bebas akan disasi juga.
5. Bila ada ikan lompa yang masuk ke daerah labuhan bebas, maka dilarang ditangkap dengan jaring.
6. Pada daerah sasi maupun pada daerah labuhan bebas, dilarang menangkap ikan dengan mempergunakan jaring karoro.

JARING

 

SASI KALI

1. Batas-batas sasi di kali dimulai dari:
(a) muara Wai Learisa Kayeli ke Wai Harutotui.
(b) muara Wai Learisa Kayeli sampai Air Kecil.
2. Apabila ikan lompa sudah masuk ke kali, dilarang diganggu ataupun ditangkap, walaupun terdapat jenis ikan lain yang masuk bersama dengan ikan lompa tadi ke dalam kali.
3. Pada waktu pembukaan sasi ikan lompa, dilarang membersihkan ikan di dalam kali atau membuang kepala ikan lompa yang diputuskan ke dalam kali.
4. Terlarang mencuci bahan dapur berupa piring piring kotor, dan sebagainya, di dalam kali.
5. Terlarang orang laki-laki mandi bercampur dengan orang perempuan, tetapi harus pada tempatnya masing-masing yang diatur sebagai berikut:
(a) untuk orang perempuan:
* di Air Besar
* di Air Pohon Lemon
* di Air Kecil
* di Air Pohon Lenggua
* pada Sebelah Air dan sampai di Gali Air dan ditentukan dengan tanda-tanda sasi yang telah ditetapkan oleh Kewang.
(b) untuk orang laki-laki:
* di Air Piting
* di Air Cabang Dua
* pada Sebelah Air dan sampai di Gali Air dan ditentukan dengan tanda-tanda sasi yang telah ditetapkan oleh Kewang.
6. Terlarang orang masuk dengan perahu bermotor maupun jenis speed-boat dengan menghidupkan mesin di dalam kali.
7. Pada tempat mengambil air minum, terlarang orang mencuci pakaian atau bahan cucian apapun melewati tempat tersebut.
8. Terlarang orang menebang pohon kayu pada tepi kali di sekitar lokasi sasi, terkecuali pohon sagu.

SASI HUTAN

1. Terlarang orang mengambil buah-buahan yang muda seperti nenas, kenari, cempedak, durian, pinang, dll.
2. Terlarang orang menebang pohon pinang yang sedang berbuah atau menebang pohon buahbuahan lainnya untuk membuat pagar.
3. Terlarang orang memotong atap atau pelepah saguyang masih muda (hahesi) sebelum mendapat izin dari pemiliknya dan juga dari Kewang.

SASI DALAM NEGERI

1. Terlarang orang membuat gaduh dan ribut-ributan di malam Minggu.
2. Acara di malam hari berupa pesta, dll., harus mendapat izin dari Saniri Negeri.
3. Terlarang orang ke laut memancing (taba) ikan pada hari Minggu, mulai jam 17.00 sampai dengan jam 19.00 WIT.
4. Terlarang orang ke hutan pada hari Minggu, kecuali ada keperluan yang sangat penting atau pada musim cengkeh, tetapi harus mendapat izin dari Kewang.
5. Terlarang orang menjemur atap, membakar rumput, tempurung, dll., di jalan raya.
6. Terlarang orang menjemur pakaian di atas pagar.
7. Terlarang orang membuang rumput dan air besar di dalam kali.
8. Rumput-rumput harus dibuang sekurang kurangnya 4 meter dari tepi kali dan pada tempat yang telah ditentukan oleh Kewang.
9. Terlarang semua orang perempuan, sewaktu pulang dari kali, hanya memakai kain sebatas dada.
10. Terlarang orang laki-laki berkain sarung di siang hari, kecuali yang sakit, serta tidak boleh memakai deker atau salele handuk dan berkeliaran di jalan raya.
11. Terlarang orang perempuan memanjat pohon di dalam desa kecuali dengan pakaian yang pantas.
12. Daerah Kolam Jawa dinyatakan tertutup dan dilindungi serta dijaga agar tidak dirusakkan oleh siapapun.
13. Bagi mereka yang melanggar peraturan sasi ini, akan dikenakan sanksi sebagai berikut:

  • Potong atap tanpa izin

Rp 5.000

  • Motor masuk kali dengan menghidupkan mesin        

Rp 10.000

  • Mengambil buah-buahan muda

Rp 5.000

  • Mengganggu ikan lompa di kali

Rp 2.500

  • Orang perempuan yang pulang dari kali hanya memakai kain; dan orang laki yang berkeliaran dalam desa dengan memakai deker atau salele handuk

Rp 10.000

  • Mencuci piring, membuang air besar dan rumput di kali, dll.

Rp 2.500

  • Ke hutan atau ke laut pada hari Minggu

Rp 5.000

  • Mengeluarkan kata makian
    atau sumpah-serapah

Rp 5.000

  • Mengambil karang laut

Rp 10.000

  • Menebang pohon kayu bakau atau jenis tumbuhan lain di Kolam Jawa

Rp 5.000

  • Membuat gaduh dan ribut di malam Minggu

Rp 2.500

Demikianlah peraturan sasi secara umum yang berlaku di Haruku.

 

video

 

 

 

Artikel Terkait :

 


Conservation is the management, protection, and wise use of natural resources. Natural resources include all the things that help support life, such as sunlight, water, soil, and minerals. Plants and animals are also natural resources. The earth has limited supplies of many natural resources. Our use of these resources keeps increasing as the population grows and our standard of living rises. Conservationists work to ensure that the environment can continue to provide for human needs. Without conservation, most of the earth's resources would be wasted, degraded, or destroyed. Conservation includes a wide variety of activities. Conservationists work to keep farmlands productive. conservation They manage forests to supply timber, to shelter wildlife, and to provide people with recreational opportunities. They work to save wilderness areas and wildlife from human destruction. They try to find ways to develop and use mineral resources without damaging the environment. Conservationists also seek safe, dependable ways to help meet the world's energy needs. In addition, they work to improve city life by seeking solutions to air pollution, waste disposal, and urban decay. Conservationists sometimes divide natural resources into four groups: (1) inexhaustible resources, (2) renewable resources, (3) nonrenewable resources, and (4) recyclable resources. Inexhaustible resources, such as sunlight, cannot be used up. Conservation experts consider water an inexhaustible resource because the earth will always have the same amount of water. But water supplies vary from one area to another, and some areas have shortages of clean, fresh water. The supplies of salt and some other minerals are so abundant that they are not likely to be used up. Renewable resources can be used and replaced. They include plants and animals, which reproduce and so replace themselves. Most renewable resources cannot be stored for future use. For example, old trees rot and become useless for timber if they are not cut down, though rotting trees can serve such important purposes as providing habitat for wildlife. In addition, because most renewable resources are living things, they interact with one another. Thus, the use of one such resource affects others. For example, cutting down trees affects many plants and animals, as well as soil and water resources. Soil may be considered a renewable resource because crops can be grown on the same land for years if the soil is cared for properly. But if the soil is allowed to wash or blow away, it can only be replaced over hundreds of years. Nonrenewable resources, such as coal, iron, and petroleum, cannot be replaced. They take thousands or millions of years to form. People deplete supplies of these resources faster than new supplies can form. We can store most nonrenewable resources for future use.

Mining companies sometimes leave minerals in the ground to save them for the future. Little interaction occurs among most nonrenewable resources, so using one nonrenewable resource has little effect on another. Recyclable resources, such as aluminum and copper, can be used more than once. For example, aluminum can be used to make containers and then be reprocessed and reused. People have practiced some kinds of conservation for hundreds of years. As a popular movement, however, conservation began in the United States during the early 1900's. The word conservation was probably first used by Gifford Pinchot, head of the U.S. Forest Service during President Theodore Roosevelt's administration. The term comes from two Latin words-servare, which means to keep or to guard, and con, which means together. During the early 1900's, American conservationists worked chiefly to preserve the nation's forests and wildlife. Today, conservationists work in many fields, including forestry, geology, range ecology, soil science, wildlife biology, and urban planning. Conservationists are also called environmentalists. One of the most difficult challenges of conservation is to reconcile two, sometimes conflicting, goals-(1) to protect the environment and (2) to maintain or increase agricultural and industrial production. For example, the agricultural use of some chemical fertilizers and pesticides pollutes the environment but also greatly increases crop yields. Thus, most farmers do not want to stop using these chemicals, even though it would be best for the environment. Only the combined efforts of many people can solve such problems. Business leaders, government officials, scientists, and individuals must all work together to conserve natural resources.


KEWANG HARUKU - DESA HARUKU
KABUPATEN MALUKU TENGAH - PROVINSI MALUKU - INDONESIA
WEBSITE : www.kewang-haruku.org EMAIL : kewangharuku@gmail.com
TELP. +6285243460984 (Eliza Kissya)
designed by irwantoshut.net